Showing posts with label Knowledge. Show all posts
Showing posts with label Knowledge. Show all posts

Jun 11, 2006

$MONEY MAKER


make $$ through your personal website?? Wow. That's really appealing! I am so excited when I know this. I know you may say huh.. “How come you don’t know that!” Well, I don’t care whether it’s too late to know.
This definitely will motivate me to write more interesting stuffs so that more visitors who blogroll your blog interested in visiting your blog and clicking ads in your blog.. Then whoala! penny will come to your account. But, in reality it is possibly not that simple and easy. Do not expect that you will quickly grab money in short time I guess it depends also on the popularity of your blog.
Anyway, it's free to sign up to put ads. I did sign up an account and in the meantime, I am waiting for their follow up. Let’s see what comes up. I’m ready to go..

Jun 9, 2006

Satisfied?

I feel so great after moving my blog to Wordpress. It's been almost a week, I madly wanted to change the look of my blog@Blogger. The problem is I couldn't decide which template that I want to use. I spent almost 3 days just to hang around in some websites providing easy instal Blogger templates. Then, end up finding Wordpress (WP). I signed up an account to blog. So far, I am fine and happy as I could make more than one page in my blog. I guess that's one plus of WP.

But this morning when I logged on to my blog, I found some snags.

First, my pictures in the Prologue page are not shown. Not sure why. I believe they are not huge pictures just less than 50kb. Then I checked WP FAQ page, I couldn't find typical problem. Looks like I have to post a question on this.

Second problem, this WP doesn't provide simple blogging to put link. It possibly will not be a problem to blogger who are familiar with HTML codes/tags in making link. For me ( as I always forget the tag codes) it gives a bit hassle. I found then if I want to link easily when I blog I have to untick the post editor so that all HTML tag function will be shown in the editing blogging page.

The third, I can't put shoutbox/chatterbox to my blog!! Butz.. it's not a nightmare for me. I was able to use one page (Gimme your shout) with comment function for chatting provided anybody interested in putting message in mine. Smart idea, eh!

Other thing, I think I should give feedback to them, about inability popping a new page, what I mean here whenever you click any linked word in WP it will always shown in the same page. I guess it's not really annoying especially when you are in the FAQ page then you need to apply to your blog page to follow the instructions, you have to click back-forward button repetitively. Huh, a lot work. It is enough to make me frustrated.

Well, not sure until when I will stand using this WP. Possibly I will be back to Blogger when I find a template that satisfy me.

Overall, after moving back and forth, trying-error some of the blog providers I realise that I need to get some sense of HTML coding. Nothing to loose to learn it while I know I have time now ( I am in maternity leave now). I am really challenged to master HTML coding.. I am gonna learn this stuffs!!!

Jan 26, 2006

Brain Drain - TKI Expatriate di Malaysia

Mengingatkan saat 2 bulan lalu kudapat kabar dari teman kuliah yang pindah ke Kuala Lumpur karena mendapat posisi geologist di Petronas. Dia itu ternyata ya TKI juga hanya saja berembel-embel "intelek" atau "kelas tinggi" …

Berikut ini kukutip dari artikel di Republika (tulisan Anif Punto Utomo) - sekedar ingin berbagi informasi tentang fenomena yang terjadi di negara kita.

Wajah Lain TKI di Malaysia

Sekitar 15 orang tampak duduk santai di sebuah kafe di kawasan apartemen Kampung Warisan, Kuala Lumpur (KL). Suasana Jumat malam pekan lalu itu, benar-benar mereka nikmati setelah sepekan penat bekerja di kantor. Sebagian besar tinggal di apartemen dekat kafe tersebut, tak heran kalau banyak yang saat itu bercelana pendek. Hangat, akrab, dan penuh ger-geran.

Siapa mereka? Mereka adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) yang mencari nafkah di Malaysia. Ada yang baru enam bulan, tapi ada juga yang lebih dari empat tahun. Mereka merasa kerasan di Malaysia karena selain iklim kerjanya enak, juga masih dekat dengan Indonesia, sehingga minimal setahun sekali bisa pulang.

Tapi, jangan berpikir bahwa mereka adalah TKI yang selama ini sering jadi berita TKI yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan para pekerja kasar. Mereka memang tenaga kerja dari Indonesia, tetapi tenaga kerja kelas atas, para profesional, para ekspatriat. Kebanyakan lulusan perguruan tinggi ternama di negeri ini. Ada juga yang pascasarjana. Bahkan, nyambi jadi dosen S2 di sana.

Mereka adalah profesional di bidang perminyakan dengan usia 35-45 tahun yang tergabung dalam Ikatan Ahli Teknik Minyak Indonesia (IATMI) cabang Kuala Lumpur (KL). Malam itu mereka sedang kumpul-kumpul. Banyak hal diperbincangkan, mulai dari prospek ketenagakerjaan di perminyakan sampai masalah copet di kereta api di KL.

Jumlah ekspatriat perminyakan cukup banyak, sekitar 150 orang. Mereka tersebar di perusahaan minyak internasional, seperti Murphy Oil, Amerada Hess, Schlumberger, Haliburton, dan tentu saja yang terbanyak di Petronas — lebih dari 20 orang. Selain di KL, mereka ada di Trengganu, Kerteh, Kinibalu-Sabah, sampai Miri-Sarawak.

Selain di bidang perminyakan, di Johor, para tenaga kerja intelek (TK intelek, begitu sebutan populer untuk mereka) banyak bekerja di perusahaan kontruksi di bidang migas. Lebih dari 100 orang bekerja di Malaysia Shipyard and Engineering Sdn, Sime Sembcorp Engineering Sdn Bhd, Technip, dan Saibos. Profesi lain yang juga cukup banyak adalah pilot. Setidaknya ada 30 pilot Malaysia Airlines dan 50 pilot Air Asia, yang dibajak dari maskapai penerbangan Indonesia. Ada juga alumni dari PT Dirgantara Indonesia, yang sudah mahal-mahal dibiayai sekolah ke luar negeri, dibajak Malaysia, karena iklim bekerja di Indonesia kurang kondusif.

Kehidupan sosial para ekspatriat tadi relatif tinggi. Apartemen yang ditinggali bersama keluarga, harga sewanya lebih dari 1.000 ringgit (Rp 2,6 juta) per bulan. Mereka juga memiliki mobil yang harganya di atas 60 ribu ringgit, meski banyak juga yang ke kantor lebih memilih naik kereta — monorel atau light train. Gajinya, 2.000-8.000 dolar AS per bulan!

Pada 2005 silam, butuh 2,5 juta TKI di seluruh dunia untuk menghasilkan devisa 2,5 miliar dolar AS, dan ditargetkan 4 miliar dolar AS pada tahun ini. Jika saja pendapatan ekspatriat tadi dihitung, dengan jumlah orang yang satu persen saja dari total TKI, mungkin akan menyumbang separuhnya. Gaji besar mereka akan mendatangkan devisa besar pula.

Keberadaan mereka memang sedikit banyak menepis anggapan bahwa tenaga kerja Indonesia di luar negeri berketerampilan rendah. Kualifikasi mereka jelas sudah teruji. ”Kita nggak kalah sama mereka,” kata Rovicky Dwi Putrohari, alumnus Geologi UGM yang sudah dua tahun menjadi TK intelek di Kuala Lumpur.

Terbukti, kata Rovicky, hampir setiap proyek di lingkungan Petronas selalu ada pekerja TK intelek ini. Bahkan, karena reputasi itu pula, Human Resource Departement Petronas merasa perlu mengunjungi Fakultas Geologi UGM, dan universitas ternama lainnya untuk mencari bibit unggul. Saat ini tercatat 10 orang alumni geologi UGM bekerja di Petronas Malaysia.

Mulai mengalirnya ekspatriat itu, terutama di perminyakan, bermula awal 2000-an. Kala itu dunia bisnis masih lesu karena terpaan krisis 1997, ditambah dengan gaji yang masih rendah, mereka memilih bekerja ke Malaysia. Di samping memang Malaysia juga butuh tenaga profesional untuk mengisi kekosongan SDM, lantaran begitu pesatnya pertumbuhan ekonomi.

Cuma sayangnya, sampai sekarang belum ada tali silaturahim antara ekspatriat dengan tenaga Indonesia kelas bawah di Malaysia. Kebersamaan di rantau sangat diperlukan untuk memperkuat tali persaudaraan sesama orang Indonesiaa. Ketimpangan strata dan pendapatan dapat diredusir dengan semangat persaudaran agar tidak terjadi blok pemisah.

Tapi apa pun, kehadiran ekspatriat ini melengkapi kesuksesan beberapa orang Indonesia di negeri jiran ini. Kita tahu grup band seperti Peterpan, SO7, Dewa sangat terkenal di negeri itu, begitu pula penyanyi seperti Krisdayanti. Kemudian di sepak bola, Bambang Pamungkas menjadi salah satu pemain pujaan di Malaysia, khususnya Selangor.

Ada rasa kebanggaan memang ketika kita tahu bahwa tenaga kerja Indonesia di luar negeri bukan hanya yang unskill, tetapi juga banyak yang high skill. Memang, secara umum orang-orang Indonesia di sana masih dipandang rendah. Tapi, dengan makin banyaknya ekspatriat, kesan bahwa tenaga kerja Indonesia melulu unskill mulai terkikis.

Hanya memang, kalau direnungkan lebih dalam, teramat sayang juga tenaga-tenaga terdidik kita harus pergi ke luar negeri (brain drain). Sementara banyak hal yang bisa dikerjakan di dalam negeri. Tapi, itu bisa dimaklumi ketika kondisi di Indonesia menurut mereka masih bikin kesal, bikin sebal, dan penuh dengan ketidakpastian.

Tak heran kalau pertanyaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika berkesempatan makan malam bersama warga Indonesia di Malaysia beberapa waktu lalu, agak sulit mereka jawab. Pertanyaan itu, ”Apakah kalau Indonesia mulai membaik, saudara-saudara mau kembali?”

Dec 15, 2005

Eye of GOD



This genuine photograph was taken by NASA’s Hubble Space Telescope and the Kitt Peak National Observatory in Arizona. The picture was also featured on NASA’s Website as an Astronomy Picture of the Day in May 2003. Astronomically, this space imagery portrays the so-called Helix Nebula described by astronomers as "a trillion-mile-long tunnel of glowing gases." At its center is dying, Sun-like star which has ejected masses of dust and gas to form tentacle-like filaments stretching toward an outer rim composed of the same material. The Sun itself may look like this in several billion years.

In my perspective, as a religious person, this phenomenon does not really represent the Eye of God. As I believe the Eye of God is not only one. His eyes are uncountable, keep watching and taking care His believers. The bottom line is this universe appearance may show his magnificent Power in ruling the universe.